Halo!Nama saya Disa Aditi Raissaputri Tannos. Ya, dipanggil aja Disa. Temen-temen saya banyak sih yang suka manggil saya dengan nama yang aneh-aneh. Bahkan ada yang manggil saya Keling, katanya karena saya Cina tapi item. Saya mah seneng-seneng aja dapet panggilan sayang *haus kasih sayang*. Kata orang-orang muka saya jutek. Tapi percayalah, saya ini ramah dan baik hati. Saya cuma gak bisa basa-basi aja, jadi kalo lagi berdua aja sama saya dan kamu orangnya gak bawel, jangan harap saya bisa jadi temen ngobrol yang menyenangkan. Tapi biar gitu juga saya orangnya tukang nyampah. Sekali kamu nanya kabar percintaan saya, siap-siap aja denger cerita saya berjam-jam nonstop. Hal yang paling saya suka? Gak ada. Saya juga suka bingung kalo ditanya ini, abis saya gak pernah tertarik banget sama satu hal tertentu. Oh, yang jelas, menyanyi selalu membuat saya senang. Sisanya yaa.. saya cukup suka traveling, cukup suka nulis, cukup suka minum kopi, cukup suka main gitar walaupun sebenernya gak bisa, cukup suka nyetir walaupun sampai sekarang masih belum bisa juga mundur dengan lurus- apalagi parkir, cukup suka kelayapan malem-malem (tapi bukan jual diri kok), cukup suka jalan-jalan sendirian (dan paling sebel kalo ketemu orang terus dikasihanin gara-gara cuma sendiri), cukup suka nongkrong di genteng malem-malem ditemani kopi hitam (dan Marlboro Menthol kalo lagi stres), cukup suka denger musik walaupun gak pernah nyoba ngikutin perkembangan musik atau band apapun. Selera musik saya? Silakan dilihat aja sendiri di sini. Saya orangnya pemalas, pelupa, dan ceroboh. Saya juga prokrastinator sejati- kalo gak besok deadline, gak bisa kerja. Saya gak bisa masak, gak bisa ngupas buah, dan gak bisa gendong bayi, padahal saya suka banget sama anak-anak. Intinya: saya bukan calon menantu idaman. Tapi suatu saat nanti saya akan belajar. Nanti, kalo udah punya pacar. Hehe. Oh, saya juga orang dengan kemampuan spasial minim, makanya kalo nyetir suka ngaco dan nyasar melulu. Orang tiap keluar dari WC di mall aja saya suka salah belok. Salah satu cita-cita saya adalah belajar dan
menguasai 5 bahasa. Tapi belum ada yang kesampaian satu pun. Haha. Cita-cita
lainnya? Bikin rumah singgah, keliling dunia, bisa main musik dan bikin lagu
yang dinyanyiin sendiri (kalo bilang jadi penyanyi agak malu), dan dapet jodoh
baik hati. Oh iya, saya tau ini malu-maluin, tapi.. Khatam Al-quran. AMIN. |
|
|
Saturday, June 16, 2007 kehidupan di bandara here’s another fiction I just wrote. enjoy! (: saya suka pergi ke bandara. suka dalam arti, ketika saya bosan, saya akan memacu mobil saya ke bandara untuk duduk berjam-jam di sana. iya, bandara yang itu. bandara yang banyak pesawatnya. bandara yang sibuk dari pagi sampai pagi lagi. bandara yang selalu penuh manusia dan koper-kopernya. mungkin aneh, tapi buat saya itu menyenangkan. kadang seperti melihat adegan akhir love actually. saya akan makan di McDonald’s. atau sekadar menikmati satu atau dua scoop Baskin Robbin’s, kemudian duduk diam di kursi tunggu. lalu saya akan menggambar. menggambar mereka yang menunggu atau menghabiskan waktu. atau saya akan menulis. menulis mereka yang berpisah atau baru berjumpa. atau saya hanya akan menonton. menonton mereka yang menangis atau tertawa bahagia. yang jelas, percaya atau tidak, saya tahu lebih banyak tentang beberapa kehidupan, daripada para pemilik kehidupan itu sendiri. saya pernah melihat sebuah keluarga bahagia, dan sepertinya kaya. mereka mengantarkan sang ayah yang akan bertugas ke Amerika. untuk waktu yang lama sepertinya. sang ayah menjanjikan oleh-oleh untuk anak perempuannya yang masih balita, lalu menggendong dan menciumnya. kemudian ia mengecup lembut istrinya, dan pergi meninggalkan mereka. saya sampai terharu melihatnya. saya bahkan sempat menggambarnya. beberapa bulan kemudian saya kembali. dan apa yang terjadi? saya melihat sang ayah. mungkin tugasnya dipercepat, pikir saya. tapi tidak. ia diikuti seorang wanita muda, yang kemudian dirangkul dan diciumnya mesra. mereka tertawa-tawa. kemudian pergi, masuk ke dalam sebuah taksi. lelaki keparat, maki saya dalam hati. saya pernah melihat sepasang anak muda. si perempuan menangis karena pacarnya akan kuliah di luar negri. tapi mereka membuat janji untuk saling setia, dan si lelaki pun bersumpah akan cepat kembali. kemudian mereka berpisah, persis seperti adegan film sampai saya ikut membayangkan sebuah lagu cinta sebagai soundtracknya. dan mereka sukses masuk dalam buku harian saya. karena itulah setelah 6 bulan, saya masih ingat wajah mereka. saya mengenali si perempuan yang datang kembali untuk berlibur ke luar kota, tapi bersama seorang pria. mereka bergandengan dan berangkulan mesra. dan saya juga masih ingat beberapa bulan kemudian, ketika si perempuan kembali datang sendirian. untuk menjemput si lelaki yang kuliah di luar negri. tentu saja si lelaki tidak tahu apa yang pernah terjadi. perempuan sialan, pikir saya kemudian. tentu saja tidak semua cerita berakhir dengan dusta. ada juga yang tetap bahagia. seperti pasangan muda yang berbulan madu, yang setelah pulang tampak semakin bahagia. seperti keluarga yang baru kembali dari liburan, dan terlihat sangat puas berbelanja. ada juga yang banyak berubah. seperti seorang gadis lugu yang sekolah ke luar negri, dan kembali dengan tattoo, tindikan dan rok mini. seperti lelaki kutu buku yang juga sekolah ke luar negri, dan menjelma menjadi lelaki tampan dengan nilai delapan. tapi saya tetap tak bisa mengubur rasa penasaran. apa yang terjadi pada keluarga si lelaki keparat itu kemudian? apakah istrinya pernah tahu apa yang telah ia lakukan? apakah sampai sekarang mereka masih bahagia, atau pura-pura bahagia? apa yang terjadi pada hubungan perempuan sialan dan si lelaki setelah ia kembali? apakah mereka tetap berpacaran? apakah si perempuan tetap setia, atau masih menduakan dia? apakah pasangan muda yang berbulan madu akan bertahan selamanya? kadang saya merasa bersalah karena saya tahu lebih banyak. tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa, bukan? karena itu bukan hidup saya. itu hidup mereka. saya sering berpikir, kita seperti aktor sinetron yang tak diberi tahu jalan ceritanya oleh sang sutradara. kita hanya memainkan peranan kita, tanpa tahu kapan berakhir dan bagaimana akhirnya. jika sedang baik hati, saya suka mendoakan mereka. meminta agar semua cerita diberi akhir yang bahagia. sampai sekarang saya masih suka pergi ke bandara. menggambar, menulis, atau menonton saja. saya juga suka mengira-ngira. siapa tahu ada cerita yang lebih menarik lagi. siapa tahu saya bisa mendapatkan akhir dari cerita yang sudah ada. siapa tahu tokoh-tokoh yang saya kenali muncul kembali, dengan cerita baru untuk saya nikmati. siapa tahu. 1 orang berkomentar. Mau? |
KUNJUNGI: Aruni Ania Ayuana Deconsumption Dheya Dita Epha Fajri Fardil Galuh Jane Jodie Kiki Kimi Lana Lani Lhia Melita Moko Nindia Nona Other Epha Paneno Psigoblog Roro Ruud Tio Yunda YANG DULU 20070401 20070408 20070422 20070506 20070513 20070520 20070527 20070603 20070610 20071014 20080217 20080518 20080525 20080615 20081123 20090215 20090222 20090301 20090308 20090405 20090419 20090503 20090510 20090517 20090524 20090621 20090628 20090705 20090712 20090719 20090802 20090809 20090830 20090913 20090920 20090927 20091004 20091025 20091129 20091206 20091213 |